APAKAH RASULULLOH SAW UMMIY SELAMANYA?


Bismillaahirrohmaanirohiim

Ketahuilah bahwa Rasululloh SAW sebagai seorang pemimpin besar dan sekaligus sebagai teladan umat, maka beliau tidak mungkin ummiy selama-lamanya, dan berikut ini adalah penjelasannya :

Ummiy dalam Bahasa Arab memiliki dua makna, yaitu : Tidak mengetahui kitab suci atau tidak bisa membaca dan menulis.
Alloh Ta’ala berfirman :

 وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لاَ يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ. البقرة : ٧٨
“Dan dari sebagian mereka adalah orang-orang ummiy yang tidak mengetahui Al-Kitab”. (Q.S. Al-Baqoroh : 78).

Kata Ummiy berasal dari kata UMMUN yang bermakna Induk atau Ibu, lalu diberi akhiran huruf YA’ nisbat. Imam Al-Qurthubi di dalam Tafsirnya, 2/6 menjelaskan :

قوله تعالى : ” ومنهم أميون ” أي من اليهود. وقيل : من اليهود والمنافقين أميون، أي من لا يكتب ولا يقرأ، واحدهم أمي، منسوب إلى الأمة الأمية التي هي على أصل ولادة أمهاتها لم تتعلم الكتابة ولا قراءتها
Firman Alloh Ta’ala : “WA MINHUM UMMIYYUUNA” artinya adalah dari orang-orang Yahudi, dan dikatakan : Dari orang-orang Yahudi dan orang-orang Munafiq adalah Ummiyyun, yaitu orang yang tidak menulis dan juga  tidak membaca. Kata tunggal (Ummiyyun) adalah Ummiy yang dinisbatkan kepada kata Al-Ummah al-Ummiyah yang merupakan dasar kelahiran induknya yang tidak mengetahui tulisan dan juga tidak mengetahui bacaan.

Di dalam hadits shohih dijelaskan :

عن ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسِبُ. أخرجه البخاري (١٩١٣)، ومسلم (١٠٨٠). حديث صحيح
Dari Ibnu Umar ra, dari Nabi SAW bahwasanya beliau bersabda : “Kami adalah umat yang ummiyah yang tidak menulis dan juga tidak menghitung”. (H.R. Al-Bukhari, No : 1913, dan Muslim, No : 1080).

Dan di dalam hadits ini tidak berarti bahwa semua umat Islam itu tidak bisa menulis dan juga tidak bisa hitung-hitungan, namun hadits ini hanya menjelaskan bahwa untuk menentukan awal Romadhon dan Idul Fitri adalah dengan ru’yatul hilal (penglihatan bulan sabit) dan bukan dengan ilmu hisab. Sedangkan awal perintah menunaikan kewajiban puasa di bulan Romadhon adalah pada bulan sya’ban tahun ke-dua dari hijrah.

Alloh Ta’ala berfirman :

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ اْلأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَاْلإِنْجِيلِ. الأعراف : ١٥٧
“Orang-orang yang mengikuti rasul nabi yang ummiy yang mereka dapati (namanya) tertulis di sisi mereka di dalam Taurat dan Injil”. (Q.S. Al-A’rof : 157).

Para ulama ahli tafsir telah sepakat bahwa tidak ada seorang nabi dan rasul-pun yang disifati dengan ummiy selain Nabi Muhammad SAW, oleh sebab itu di dalam ayat ini telah jelas bahwa yang dimaksud adalah Rasululloh Muhammad SAW.

Dan seluruh ulama ahli sejarah serta ahli tafsir telah sepakat bahwa sebelum masa kenabian, maka Rasululloh SAW adalah ummiy dari membaca dan menulis serta ummiy dari mengetahui kitab suci, hal ini sebagai bukti bahwa kebenaran Al-Qur’an adalah wahyu murni dari Alloh Ta’ala dan bukan rekayasa atau karangan Nabi Muhammad SAW. Karena dari sejak kecil beliau hidup dalam keadaan tidak punya ayah dan tidak punya ibu, lalu beliau diasuh oleh kakeknya, kemudian oleh pamannya yang punya anak sangat banyak dan hidup serba pas-pasan. Sedangkan beliau sendiri setiap hari bekerja sebagai penggembala kambing milik pamannya di pagi hari dan di sore hari juga menggembala kambing milik orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Dan ketika beliau bekerja sebagai pedagang yang menjual barang dagangan milik Khodijah binti Khuwailid beliau pun tetap masih belum bisa membaca dan menulis maupun mengetahui kitab suci. Hingga pada awal beliau SAW menerima wahyu pertama kali beliau pun masih belum bisa membaca dan menulis.

Rasululloh SAW cerita kepada Aisyah ra, tentang kisah pertama kali beliau menerima wahyu, lalu Aisyah meriwayatkan kisah tersebut  kepada Urwah bin Az-Zubair :

جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ : إقْرَأْ، قَالَ : مَا أَنَا بِقَارِئٍ، قَالَ : فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ : إقْرَأْ، قُلْتُ : مَا أَنَا بِقَارِئٍ، فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ : إقْرَأْ، فَقُلْتُ : مَا أَنَا بِقَارِئٍ، فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ : { إقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ اْلإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ إقْرَأْ وَرَبُّكَ اْلأَكْرَمُ }. أخرجه البخاري (٣)، ومسلم (١٦٠). حديث صحيح
“Kebenaran telah datang kepada beliau SAW, sedangkan beliau di dalam Gua Hira’, lalu malaikat datang kepadanya seraya berkata : “Bacalah”, (beliau) menjawab : “Aku tidak bisa membaca”, (beliau) bersabda : Lalu malaikat memegangku dan menyelimuti aku sehingga sampai kepadaku kepayahan, kemudian malaikat melepaskanku seraya berkata : “Bacalah”, aku (Rasululloh SAW) berkata : “Aku tidak bisa membaca”, maka malaikat memegangku dan menyelimuti aku untuk kedua kalinya sehingga sampai kepadaku kepayahan, kemudian malaikat melepaskan diriku seraya berkata : “Bacalah”, lalu aku menjawab : “Aku tidak bisa membaca”, lalu malaikat memegangku dan menyelimuti aku untuk yang ketiga kalinya kemudian dia melepaskan diriku seraya berkata : IQRO’ BISMIROBBIKAL-LADZIY KHOLAQ, KHOLAQOL INSAANA MIN ‘ALAQ, IQRO’ WAROBBUKAL AKROM”. (H.R. Al-Bukhari, No : 3, dan Muslim, No : 160).

Keadaan tidak bisa membaca dan menulis ini berlangsung selama Rasululloh SAW berdakwah di Makkah karena kondisi yang belum memungkinkan bagi beliau untuk belajar, namun setelah beliau hijrah ke Madinah maka beliu pun memiliki kesempatan untuk belajar membaca dan menulis dengan para sahabat beliau. Hal ini sebagai salah satu wujud teladan dari beliau kepada umat, karena setiap ada tawanan perang beliau selalu memperlakukan istimewa kepada para tawanan yang dapat membaca dan menulis untuk mengajar.

Abuya Sayyid Muhammad bin ‘Alwiy Al-Malikiy di dalam kitab Tarikh Al-Hawaadits Wal Ahwaali An-Nabawiyah, hlm : 81, menjelaskan :

وفي هذه السنة (أي السنة الرابعة من الهجرة) أمر النبي صلى الله عليه وسلم زيد بن ثابت أن يتعلم له كتاب يهود ليكتب له، كتبه إليهم ويقرأ له كتبهم
Dan di dalam tahun ini (yaitu tahun ke-empat dari hijrah), Nabi SAW memerintahkan Zaid bin Tsabit agar belajar kitabnya orang-orang Yahudi untuk beliau agar dia menulisnya untuk beliau, maka dia menulisnya kepada mereka (Yahudi) dan dia (Zaid) membaca kitab-kitab mereka untuk beliau (Rasululloh SAW).
Dan pada tahun ke-enam dari hijrah, beliau mengadakan perjanjian hudaibiyah dengan kaum kuffar Makkah setelah sebelumnya mengadakan Bai’at dengan para sahabat beliau yang terkenal dengan Bai’atur-Ridwan.

عن الْبَرَاء بْنَ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : لَمَّا صَالَحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَهْلَ الْحُدَيْبِيَةِ كَتَبَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ بَيْنَهُمْ كِتَابًا، فَكَتَبَ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ، فَقَالَ الْمُشْرِكُونَ : لاَ تَكْتُبْ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ، لَوْ كُنْتَ رَسُولاً لَمْ نُقَاتِلْكَ، فَقَالَ لِعَلِيٍّ : أمْحُهُ “رَسُول اللهِ”! فَقَالَ عَلِيٌّ : لاَ وَاللهِ لاَ أَمْحُوكَ أَبَدًا، فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكِتَابَ فَمَحَاهُ بِيَدِهِ، فَكَتَبَ : هَذَا مَا قَضَى عَلَيْهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ. أخرجه البخاري : (٢٦٩٨، و٢٦٩٩)، ومسلم (١٧٨٣). واللفظ للبخاري
Dari Al-Barro bin ‘Azib ra, berkata : Tatkala Rasululloh SAW mengadakan perdamaian pada penduduk Hudaibiyah, maka Ali bin Abu Thalib menulis di antara mereka dengan suatu tulisan, lalu dia menulis : “MUHAMMADUN RASUULULLOH”, maka orang-orang musyrik berkata : “Janganlah kamu menulis MUHAMMADUN ROSUULULLOH, kalau seandainya kamu seorang rasul maka kami tidak akan memerangimu, lalu beliau bersabda kepada Ali : “Hapuslah (tulisan) RASUULULLOHI”, lalu Ali menjawab : “Tidak, demi Alloh aku tidak akan menghapusmu selama-lamanya”, lalu Rasululloh SAW mengambil tulisan itu, lalu beliau menghapusnya dengan tangan beliau sendiri, seraya beliau menulis : “Ini adalah apa yang telah ditetapkan atasnya oleh Muhammad bin Abdulloh”. (H.R. Al-Bukhari, No : 2698, 2699, dan Muslim, No : 1783).

Dalam riwayat hadits ini telah jelas bahwa Rasululloh SAW dapat menghapus tulisan dengan benar dan tepat, dan kalau sekiranya beliau tidak bisa membaca dan menulis lalu mana mungkin beliau dapat memilih tulisan mana yang harus dihapus, dan dalam hadits ini juga sudah jelas dan gamblang bahwa Rasululloh SAW sendiri-lah yang menulis isi Perjanjian Hudaibiyah tersebut.

Dan di dalam As-Siroh An-Nabawiyah, 3/184, Ibnu Hisyam Al-Anshori juga menambahkan :

فبينا رسول الله صلى الله عليه وسلم يكتب الكتاب هو وسهيل بن عمرو، إذ جاء أبو جندل بن سهيل بن عمرو يرسف في الحديد
Sewaktu Rasululloh SAW sedang menulis tulisan yaitu oleh beliau sendiri dan Suhail bin ‘Amr (dari pihak kaum Kuffar Makkah) tiba-tiba datanglah Abu Jandal bin Suhail bin ‘Amr yang sedang terbelenggu di dalam rantai besi.

(Abu Jandal adalah putranya Suhail bin ‘Amr yang mewakili Kafir Quraisy dalam membuat perjanian Hudaibiyah, dan Abu Jandal saat itu telah masuk Islam sehingga dia dirantai oleh ayahnya sendiri).

Dan di dalam riwayat Imam Muslim ada tambahan bahwa Rasululloh SAW minta ditunjukkan tempatnya agar beliau dapat menghapus dengan benar, namun pada lanjutan hadits juga disebutkan bahwa yang menulis “BIN ABDULLOH” adalah tetap Rasululloh SAW sendiri. Dan berikut ini adalah syarah hadits Shohih Muslim oleh Imam An-Nawawi, 12/109 :

قوله صلى الله عليه وسلم : ( أرني مكانها فأراه مكانها فمحاها وكتب ابن عبد الله
قال القاضي عياض – رضي الله تعالى عنه – : احتج بهذا اللفظ بعض الناس على أن النبي صلى الله عليه وسلم كتب ذلك بيده على ظاهر هذا اللفظ ، وقد ذكر البخاري نحوه من رواية إسرائيل عن أبي إسحاق ، وقال فيه : أخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم الكتاب فكتب ، وزاد عنه في طريق آخر ، ولا يحسن أن يكتب فكتب ، قال أصحاب هذا المذهب : إن الله تعالى أجرى ذلك على يده إما بأن كتب ذلك القلم بيده وهو غير عالم بما يكتب ، أو أن الله تعالى علمه ذلك حينئذ حتى كتب ، وجعل هذا زيادة في معجزته ، فإنه كان أميا فكما علمه ما لم يعلم من العلم ، وجعله يقرأ ما لم يقرأ ، ويتلو ما لم يكن يتلو ، كذلك علمه أن يكتب ما لم يكن يكتب ، وخط ما لم يكن يخط بعد النبوة ، أو أجرى ذلك على يده ، قالوا : وهذا لا يقدح في وصفه بالأمية ، واحتجوا بآثار جاءت في هذا عن الشعبي وبعض السلف ، وأن النبي صلى الله عليه وسلم لم يمت حتى كتب . قال القاضي : وإلى جواز هذا ذهب الباجي ، وحكاه عن السمناني وأبي ذر وغيره ، وذهب الأكثرون إلى منع هذا كله ، قالوا : وهذا الذي زعمه الذاهبون إلى القول الأول يبطله وصف الله تعالى إياه بالنبي الأمي صلى الله عليه وسلم ، وقوله تعالى : { وما كنت تتلو من قبله من كتاب ولا تخطه بيمينك } وقوله صلى الله عليه وسلم : ” إنا أمة أمية لا نكتب ولا نحسب ” ، قالوا : وقوله في هذا الحديث : ( كتب ) معناه : أمر بالكتابة ، كما يقال : رجم ماعزا ، وقطع السارق ، وجلد الشارب ، أي : أمر بذلك ، واحتجوا بالرواية الأخرى : ( فقال لعلي – رضي الله تعالى عنه – اكتب محمد بن عبد الله ) قال القاضي : وأجاب الأولون عن قوله تعالى إنه لم يتل ولم يخط ، أي من قبل تعليمه كما قال الله تعالى : { من قبله } فكما جاز أن يتلو جاز أن يكتب ، ولا يقدح هذا في كونه أميا إذ ليست المعجزة مجرد كونه أميا ، فإن المعجزة حاصلة بكونه صلى الله عليه وسلم كان أولا كذلك ، ثم جاء بالقرآن ، وبعلوم لا يعلمها الأميون ، قال القاضي : وهذا الذي قالوه ظاهر ، قال : وقوله في الرواية التي ذكرناها : ( ولا يحسن أن يكتب فكتب ) كالنص أنه كتب بنفسه ، قال : والعدول إلى غيره مجاز ، ولا ضرورة إليه ، قال : وقد طال كلام كل فرقة في هذه المسألة ، وشنعت كل فرقة على الأخرى في هذا . والله أعلم. شرح صحيح مسلم، ١٠٩/١٢

2 Tanggapan

  1. TERNYATA para ulama berbda pndapat tentang ini (subtansi isi artikel di atas):

    Brikut pnjelsan scra singkat :

    Dalam syarah sahih muslim itu, imam Nawawi tidak menyimpulkan pendapatnya seperti subtansi dr isi artikel di atas. Beliau hanya menukil pendapat sebagian ulama yang berpendapat dengan dhahir hadits itu bahwa Nabi menulis sendiri.

    Bahkan dlm syarah sahih muslim imam Nawawi tsb, menyebutkan pendapat MAYORITAS ulama bahwa saat itu Allah menjalankan tangan Nabi Saw, adakalanya dengan menjalankan pena tsb tanpa Nabi tahu apa yang beliau tulis, atau adakalanya saat itu Allah mengajarkan Nabi sehingga beliau bisa menulis dan hal tsb merupakan bentuk mu’jizat beliau trsndiri dan hal itu tidak melepas status Nabi yang UMMIY. Perhatikan ibarah yg ini dlm syrh sahih Muslim :

    قال أصحاب هذا المذهب: إن الله تعالى أجرى ذلك على يده إما بأن كتب ذلك القلم بيده وهو غير عالم بما يكتب، أو أن الله تعالى علمه ذلك حينئذ حتى كتب وجعل هذا زيادة في معجزته فإنه كان أمياً، فكما علمه ما لم يعلم من العلم وجعله يقرأ ما لم يقرأ ويتلو ما لم يكن يتلو، كذلك علمه أن يكتب ما لم يكن يكتب وخط ما لم يكن يخط بعد النبوة أو جرى ذلك على يده، قالوا: وهذا لا يقدح في وصفه بالأمية،
    ==============

    Di dalam kitab al-Mirqah disebutkan :

    قال في فتح الباري: وقديماً تمسك بظاهر هذه الرواية أبو الوليد الباجي فأدعى أن النبي كتب بيده بعد أن لم يكن يحسن أن يكتب، فشنع عليه علماء الأندلس في زمانه ورموه بالزندقة، وإن الذي قاله يخالف القرآن حتى قال قائلهم شعراً.
    برئت ممن شرى دنيا بآخرة
    وقال: إن رسول الله قد كتب
    فجمعهم الأمير فاستظهر الباجي عليهم بما لديه من المعرفة وقال: هذا لا ينافي القرآن بل يؤخذ من مفهوم القرآن لأنه قيد النفي بما قبل ورود القرآن قال تعالى: [أي]{ وما كنت تتلوا من قبله من كتاب}[/أي] {ولا تخطه بيمينك} [العنكبوت ــــ 48] وبعد ما تحققت وتقررت بذلك معجزته، وأمن الارتياب في ذلك لا مانع من أن يعرف الكتابة بعد ذلك من غير تعلم فيكون معجزة أخرى

    sy terjemahkan :

    “ Di dalam Fathul Bari disebutkan “ Pada masa lalu ada sebagian ulama yang berpegang dengan dhahir/literal hadits tsb yaitu Abul Walid al-Baji, ia berpendapat bahwa Nabi menulis dengan tangannya sndiri setelah beliau tidak bisa menulis sblumnya. Maka para ulama Andalus saat itu mencelanya dan memvonisnya dgn zindiq dan pendapatnya menyalahi al-Quran, sampai-sampai ada ulama yang mengubah sebuat syair berikut :
    Aku terbebas dari orang yang membeli dunianya dengan akherat..
    Dan berpendapat bahwa Rasulullah bisa menulis…

    Maka pemerintah saat itu mengumpulkan mereka smua trmasuk al-Baji kmudian al-Baji pun mnjleaskan pendapatnya “ Pndapatku tidak menyalahi al-Quran akan tetapi justru diambil dari MAFHUM al-Qurannya, karena Allah mentaqyid / mengkhususkan nabi tdk bisa menulis adalah sebelum beliau menerima al-Quran sbgaimana firman-Nya “ Dan kamu SEBELUMNYA tidak bisa membaca kitab “ “ Dan juga tak mampu menulis dengan tanganmu “ (al-Ankabut). Dan setelah mu’jizatnya mnjadi nyata dan tetap dan aman dari keraguan hal itu, maka tak ada penghalang utk nabi mampu membaca setelah itu tanpa belajar dan hal itu mnjadi mu’jizat beliau lainnya “…

    Sambungan :

    وأجاب الجمهور بضعف هذه الأحاديث، وعن قصة الحديبية بأن القصة واحدة، والكاتب فيها هو علي بن أبي طالب رضي الله عنه، وقد صرح في حديث المسور بن مخرمة بأن علياً هو الذي كتب، فيحمل على أن النكتة في قوله: فأخذ الكتاب وليس يحسن أن يكتب لبيان أن قوله: أرني مكانها أنه ما احتاج إلى أن يريه موضع الكلمة التي امتنع علي من محوها إلا لكونه كان لا يحسن الكتابة، وعلى أن قوله بعد ذلك فكتب فيه حذف تقديره فمحاها، فأعادها لعلي فكتب أو أطلق كتب بمعنى أمر بالكتابة وهو كثير، كقوله: كتب إلى كسرى وقيصر، وعلى تقدير حمله على ظاهره فلا يلزم من كتابة اسمه الشريف في ذلك اليوم وهو لا يحسن الكتابة أن يصير عالماً بالكتابة، ويخرج عن كونه أمياً ككثير من الملوك، ويحتمل أن يكون جرت يده بالكتابة حينئذ وهو لا يحسنها، فخرج المكتوب على وفق المراد فيكون معجزة أخرى في ذلك الوقت خاصة، ولا يخرج بذلك عن كونه أمياً، وبهذا أجاب أبو جعفر السمتاني أحد أئمة الأصول من الأشاعرة، وتبعه ابن الجوزي، وتعقب ذلك السهيلي وغيره بأن هذا وإن كان ممكناً، ويكون آية أخرى لكنه يناقض كونه أمياً لا يكتب، وهي الآية التي قامت بها الحجة، وأفحم الجاحد، وانحسمت الشبهة، فلو جاز أن يصير يكتب بعد ذلك لعادت الشبهة

    “ JUMHUR /MAYORITAS ULAMA menjawab / menanggap pendapat di atas sbgai berikut : “ Hadits-hadits yg menjelaskan Nabi mampu menulis itu adalah dhaif demikian jg kisah hudaibiah tsb..yang menulsi sebnarnya adalah Ali. Dan sungguh telah dijelaskan di dalam hadits miswar bin makhormah bahwa Ali lah yang menulis, maka kemungkinan makna kalimat yang berbunyi “ Lalu Nabi mengambil buku padahal beliau tidak bisa menulis “ bahwasnya ucapan Nabi “ Perlihatkan tempat tulisannya padaku …” adalah bahwa Rasul tidak butuh utk diperlihatkan tempat kalimatnya yang Ali tidak mau menghapusnya, kecuali krna beliau tidak mampu menulis. Dan kalimat “ Setelah itu beliau menulisnya “ adalah ditakdrikan maknanya “ setelah itu beliau menghapusnya “, maka Ali kembali menulis “. Atau mmuthlaqkannya dengan makna bahwa beliau memerintahkan utk menulis dan itu kemungkinan terbesarnya. …………………dimungkinkan maknanya adalah bahwa saat nabi mengirim surat kpda raja-raja, ktika itu Allah menjlankan tangan Nabi shingga bisa menulis padahal beliau tidk mampu menulis, maka saat itu adalah sebuah mu’jizat lain bagi beliau dan HANYA SAAT ITU SAJA. Oleh sebab itu, Abu Jakfar as-Simtani salah satu imam aqidah Asy’ariyyah emnjawab, juga diikutri oleh Ibnul Jauzi, AS-Suhaili dan selainnya “ Wlaupun itu memungkinkan Nabi menulis dan mnjadi sebuah tanda kebesaran lainnya, akan tetapi hal itu bertolak belakang dr status nabi yang UMMIY yang tak mampu menulis. Ayat itu (tentang keummiyan nabi) merupakan Hujjah yang telah tegak, dan membungkam org yang ingkar dan melenyapkan syubhat. Kalau setlah itu boleh dikataka nabi mampu menulis, maka sama saja syubhat itu kembali lagi..

    saya pernah membaca di dalm bbrpa kitab TARIKH bahwa bahwa TIDAK MAMPU MENULIS adalah bukan sbuah aib atau kecacatan, krna di saat itu justru bisa menulis adalah sebuah aib bagi mrka saat itu, krna menunjukkan kelemahannya dalam menghafal.
    Pada masa itu sarana tulis-menulis amat langka, sehingga masyarakat amat mengandalkan hafalan. Seseorang yang menulis dianggap tidak memiliki kemampuan menghafal, dan ini merupakan kekurangan. Penyair Zurrummah pernah ditemukan sedang menulis, dan ketika ia sadar bahwa ada orang yang melihatnya, ia bermohon,

    “Jangan beri tahu siapa pun, karena ini (kemampuan menulis)
    bagi kami adalah aib.”..

    KESMPULAN :

    Ulama berbeda pndapat tentang sifat keummian Nbai saw, apakah ke-Ummian Nbai hanya terbatas sampai sebelum terbukti kebenaran ajaran Islam. Setelah kebenaran Islam terbukti -setelah hijrah ke Madinah- beliau telah pandai membaca. Atau selamanya??

    PENDAPAT PERTAMA : ke-Ummian Nbai hanya terbatas sampai sebelum terbukti kebenaran ajaran Islam. sete;ah itu beliau pandai menulis dan membaca.

    PENDAPAT KEDUA : Bahwa ke-ummian beliau itu bersifat selamanya sebgau bukti hujjah dr Allah. dan kemampuan beliau bisa menulis dan membaca adalah hanya saat persitiwa itu saja dan dinilai sbgai mu’jizat Nabi saw. Ummi saat itu bukanlah aib malah sbuah kemuliaan. Dan inilah pendapat MAYORITAS ULAMA sprti penjabaran di atas.

    Kita tinggal memilih, mau mebgikuti pndapat ulama prtama atau mengikuti pendapat ulama yang kedua (mayoritas)…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: