DALIL-DALIL QUNUT


Bismillaahirrahmaanirraahiim

Ketahuilah, bahwa membaca do’a qunut pada roka’at terakhir setelah ruku’ di dalam sholat fardlu seluruhnya adalah sunnah, bila telah turun kepada umat Islam suatu mushibah, atau marabahaya, atau bencana, atau yang semisalnya. Dan qunut semacam ini disebut dengan nama “Qunut Nazilah”.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ حِينَ يَفْرُغُ مِنْ صَلاَةِ الْفَجْرِ مِنَ الْقِرَاءَةِ، وَيُكَبِّرُ وَيَرْفَعُ رَأْسَهُ : سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ، ثُمَّ يَقُولُ، وَهُوَ قَائِمٌ : “اللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيدِ، وَسَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ، وَعَيَّاشَ بْنَ أَبِي رَبِيعَةَ، وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ، اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ، وَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ كَسِنِي يُوسُفَ، اللَّهُمَّ الْعَنْ لِحْيَانَ وَرِعْلاً وَذَكْوَانَ، وَعُصَيَّةَ عَصَتِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ “، ثُمَّ بَلَغَنَا أَنَّهُ تَرَكَ ذَلِكَ لَمَّا أُنْزِلَ : { لَيْسَ لَكَ مِنَ اْلأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ }. {رواه البخاري (٤٥٦٠)، ومسلم (٦٧٥)، وأبو داود (١٤٤٢)}. واللفظ لمسلم

“Adalah Rasulullah SAW, membaca ketika telah selesai dari sholat shubuh dari membaca Al-Qur’an, lalu beliau bertakbir, dan mengangkat kepalanya, (seraya membaca) : SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH, ROBBANAA WALAKAL HAMDU, beliau membaca (do’a qunut), sedang beliau dalam keadaan berdiri : “Ya Allah, selamatkanlah Al-Walid bin Al-Walid, dan Salamah bin Hisyam, dan ‘Aiyyasy bin Abi Rabi’ah, dan orang-orang yang lemah dari golongan orang-orang yang beriman. Ya Allah, kuatkanlah kesengsaraan-Mu atas Bani Mudhor, dan jadikanlah kesengsaraan itu atas mereka seperti tahun-tahunnya Nabi Yusuf. Ya Allah, laknatlah Lihyan, dan Ri’lan dan Dzakwan, dan ‘Ushoiyyah yang telah bermaksiat kepada Allah dan rasul-Nya”.  Kemudian telah sampai kepada kami (suatu berita), bahwasanya beliau SAW, telah meninggalkan (do’a melaknat) itu, tatkala telah diturunkan (Q.S. Ali Imran : 128) : “Tidak ada bagimu dari urusan mereka sesuatupun, atau Allah akan menerima taubat atas mereka, atau Allah akan menyiksa mereka, sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang dholim”. (H.R. Al-Bukhari, No Hadits : 4560, Muslim, No Hadits : 675, dan Abu Dawud, No Hadits : 1442). Dan redaksi hadits ini adalah milik Imam Muslim.

Imam Muslim rahimahullah, telah memasukkan hadits tersebut di dalam Kitab Al-Masaajid Wa Mawaadhi’i As-Sholat, pada bab ke-54, yaitu : “Bab sunnahnya qunut di dalam seluruh sholat, apabila telah turun kepada orang-orang Islam suatau nazilah”.

Dan Imam Abu Dawud rahimahullah, telah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas r.a, berkata :

قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلاَةِ الصُّبْحِ، فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ، إِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ اْلآخِرَةِ، يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ، وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ. {رواه أبو داود (١٤٤٣)}. حديث حسن

“Rasulullah SAW, telah qunut selama sebulan berturut-turut di dalam sholat Dhuhur, dan ‘Ashar, dan Maghrib, dan ‘Isya’, dan sholat Shubuh, di belakang tiap-tiap sholat, ketika telah mengucapkan SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH, dari roka’at terakhir, beliau berdo’a atas beberapa orang dari Bani Sulaim, atas Ri’lin dan Dzakwan dan ‘Ushoiyyah, dan orang-orang yang berada dibelakang beliau mengamininya”. (H.R. Abu Dawud, No Hadits : 1443).

Dan begitu pula sunnah membaca do’a qunut di dalam sholat shubuh setiap hari, dan sholat witir di pertengahan yang kedua dari bulan Romadlon.  Dan kesunnahannya membaca do’a qunut  di sini adalah termasuk sunnah ab’adh, sehingga apabila seorang musholli telah lupa membacanya atau sengaja meninggalkannya, maka sholatnya tetap sah, akan tetapi hendaknya ia melakukan sujud sahwi.

Dari Muhammad bin Siirin r.a, berkata :

سُئِلَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ، أَقَنَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصُّبْحِ؟ قَالَ : نَعَمْ، فَقِيلَ لَهُ : أَوَقَنَتَ قَبْلَ الرُّكُوعِ؟ قَالَ : بَعْدَ الرُّكُوعِ يَسِيرًا. {رواه البخاري (١٠٠١)، ومسلم (٦٧٧)، وأبو داود (١٤٤٤)، والنسائي (١٠٦٧)}. حديث صحيح

“Anas bin Malik r.a, ditanya, apakah Nabi SAW, melakukan qunut di dalam sholat shubuh?, ia menjawab : “Ya”, kemudian dikatakan kepadanya : Apakah beliau qunut sebelum ruku’?, ia menjawab : Setelah rukuk’ secara ringan”. (H.R. Al-Bukhari, No Hadits : 1001, Muslim, No Hadits : 677, dan Abu Dawud, No Hadits : 1444, dan An-Nasa’i, No Hadits : 1067).

Dan adapun hadits-hadits shohih yang telah menjelaskan, bahwa Rasulullah SAW, diperintahkan untuk meninggalkan do’a qunut di dalam sholat shubuh, maka menurut pendapat Imam As-Syafi’i dan yang lainnya adalah, bahwa Rasulullah SAW, tidak diperintahkan untuk meninggalkan qunut di dalam sholat shubuh secara mutlak, akan tetapi beliau hanyalah diperintahkan agar meninggalkan do’a melaknat kepada orang-orang yang telah bermaksiat kepada Allah dan rasul-Nya. Karena hal itu bukanlah termasuk urusan beliau SAW, namun merupakan urusan Allah SWT, secara mutlak. Sebagaimana keterangan di dalam surat Ali Imran ayat 128.

Imam An-Nawawi rahimahullah, di dalam kitab Al-Adzkar telah menyebutkan :

إِعْلَمْ، أَنَّ الْقُنُوتَ فِي صَلاَةِ الصُّبْحِ سُنَّةٌ لِلْحَدِيْثِ الصَّحِيْحِ فِيْهِ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : ” أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، لَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ فِي الصُّبْحِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا”. رواه الحاكم أبو عبد الله في كتاب الأربعين، وقال : حديثٌ صحيحٌ

Ketahuilah, sesungguhnya qunut di dalam sholat shubuh adalah sunnah, karena ada hadits yang shohih di dalamnya dari Anas r.a, : “Sesungguhnya Rasulullah SAW, tidak henti-hentinya melakukan qunut di dalam sholat shubuh, sehingga beliau meninggal dunia”. (H.R. Al-Hakim Abu Abdillah di dalam kitab Al-Arbain). Dan beliau berkata : Hadits ini adalah shohih.

Imam Ad-Daraquthni dan Al-Baihaqi di dalam kitab sunannya telah banyak meriwayatkan hadits tentang qunut di dalam sholat shubuh, dan salah satu di antaranya adalah dari Anas bin Malik r.a, berkata :

أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَنَتَ شَهْرًا يَدْعُو عَلَيْهِمْ، ثُمَّ تَرَكَهُ، وَأَمَّا فِى الصُّبْحِ فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا. {رواه الدارقطني (١٦٧٦، و١٦٧٧)، والبيهقي (٣١٨٨)}. حديث حسن

“Sesungguhnya Nabi SAW, qunut selama sebulan, beliau berdo’a atas mereka, kemudian beliau meninggalkannya,  dan adapun  dalam sholat shubuh, maka beliau tidak henti-hentinya melakukan qunut sehingga beliau meninggal dunia”. (H.R. Ad-Daraquthni, No Hadits : 1676, dan, 1677, dan Al-Baihaqi, No Hadits : 3188).

Beliau juga meriwayatkan dari Sa’id bin Abdul Aziz dengan sanad yang hasan, tentang orang yang telah lupa di dalam qunut sholat shubuh, ia berkata :

يَسْجُدُ سَجْدَتَي السَّهْوِ {رواه الدارقطني (١٦٨٥)}. إسنادُه حسنٌ

“Dia hendaknya sujud pada dua kali sujud sahwi”. (H.R. Ad-Daraquthni, No Hadits : 1685). Sanadnya hasan.

Dan adapun do’a qunut yang dibaca di dalam sholat witir dan sholat shubuh, maka para imam pemilik kitab As-Sunan telah meriwayatkannya dari Al-Hasan bin Ali bin Abu Thalib r.a, berkata :

عَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي قُنُوتِ الْوِتْرِ : اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، إِنَّكَ تَقْضِي وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ. {رواه أبو داود (١٤٢٥)، والنسائي (١٧٤١)، والترمذي (٤٦٤)، وابن ماجه (١١٧٨)}. وزاد النسائي : وَصَلَّى اللهُ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ

“Ya Allah, tunjukilah aku di dalam orang yang telah Engkau beri petunjuk, dan sehatkanlah aku di dalam orang yang telah Engkau beri kesehatan, dan urusilah aku di dalam orang yang telah Engkau urusi, dan berkahilah untukku di dalam sesuatu yang telah Engkau berikan, dan peliharalah aku pada keburukannya sesuatu yang telah Engkau tetapkan, sesungguhnya Engkau yang menetapkan dan tidak ditetapkan atas Engkau, dan sesungguhnya tidak ada yang menghinakan pada orang yang telah Engkau kuasai, dan tidak ada yang menguatkan kepada orang yang telah Engkau musuhi, Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha Tinggi Engkau”. (H.R. Abu Dawud, No Hadits : 1425, dan An-Nasa’i, No Hadits : 1741, dan At-Tirmidzi, No Hadits : 464, dan Ibnu Majah, 1178). Dan An-Nasa’i telah menambahkan : WA SHOLLALLAAHU ‘ALAA AN-NABIYYI MUHAMMADIN”. (No Hadits : 1742).

Imam An-Nawawi rahimahullah, berkata :

وَفِي رِوَايَةٍ رَوَاهَا الْبَيْهَقِيُّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَنَفِيَّةِ وَهُوَ ابْنُ عَلِيِّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : إِنَّ هَذَا الدُّعَاءَ هُوَ الَّذِي كَانَ أَبِي يَدْعُو بِهِ فِي صَلاَةِ الْفَجْرِ فِي قُنُوتِهِ. وَرَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ مِنْ طُرُقٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَغَيْرِهِ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُعَلِّمُهُمْ هَذَا الدُّعَاءَ لِيَدْعُوَ بِهِ فِي الْقُنُوتِ مِنْ صَلاَةِ الصُّبْحِ. وَفِي رِوَايَةٍ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْنُتُ فِي صَلاَةِ الصُّبْحِ وَفِي وِتْرِ اللَّيْلِ بِهَذِهِ الْكَلِمَاتِ. (المجموع شرح المهذب، ٣/٤٥٩

Dan di dalam suatu riwayat, Imam Al-Baihaqi telah meriwayatkannya dari Muhammad bin Al-Hanafiyah, dan ia adalah anaknya Ali bin Abu Thalib r.a, telah berkata : “Sesungguhnya do’a ini adalah yang ayahku berdo’a dengannya di dalam sholat shubuh di dalam qunutnya”. Dan Al-Baihaqi telah meriwayatkannya dari beberapa jalur dari Ibnu Abbas dan yang lainnya : “Sesungguhnya Nabi SAW, mengajarkan kepada mereka pada do’a ini, agar mereka berdo’a dengannya di dalam qunut dari sholat shubuh”. Dan dalam suatu riwayat : “Sesungguhnya Nabi SAW, adalah qunut di dalam sholat shubuh dan sholat witir malam hari dengan kalimat-kalimat ini”. (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzab, Juz  3/459).

Telah diriwayatkan dari Abu Rafi’ r.a, berkata : Umar bin Al-Khatthab r.a, telah melakukan qunut setelah ruku’ di dalam sholat shubuh, maka aku telah mendengarkannya, ia membaca :

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَلاَ نَكْفُرُكَ، وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَخْلَعُ مَنْ يَفْجُرُكَ، اللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ، وَلَكَ نُصَلِّي وَنَسْجُدُ، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ، نَرْجُو رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ، إِنَّ عَذَابَكَ الْجِدَّ بِالْكُفَّارِ مُلْحِقٌ. اللَّهُمَّ عَذِّبِ الْكَفَرَةَ الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ، وَيُكَذِّبُونَ رُسُلَكَ، وَيُقَاتِلُونَ أَوْلِيَاءَكَ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ  وَالْمُسْلِمِيْنَ  وَالْمُسْلِمَاتِ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ، وَاجْعَلْ فِي قُلُوبِهِمُ اْلإِيْمَانَ وَالْحِكْمَةَ، وَثَبِّتْهُمْ عَلَى مِلَّةِ رَسُولِكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَوْزِعْهُمْ أَنْ يُوفُوا بِعَهْدِكَ الَّذِي عَاهَدْتَهُمْ عَلَيْهِ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ إِلَهَ الْحَقِّ وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ. أخرجه البيهقي، أنظر في الأذكار النووية، وفي المجموع، ٣/٤٥٦

“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon pertolongan kepada-Mu, dan kami memohon ampun kepada-Mu, dan kami tidak kufur kepada-Mu, dan kami beriman kepada-Mu, dan kami tanggalkan orang yang menentang kepada-Mu. Ya Allah, hanya kepada-Mu kami menyembah, dan bagi-Mu kami sholat dan bersujud, dan kepada-Mu kami berlari dan kami bergegas, kami mengharap rahmat-Mu, dan kami takut pada siksaan-Mu, sesungguhnya siksa-Mu yang dahsyat pada orang-orang kafir adalah bertubi-tubi. Ya Allah, siksalah orang-orang kafir yang telah menghalang-halangi dari jalan-Mu, dan menyiksa pada rasul-rasul-Mu, dan memerangi wali-wali-Mu. Ya Allah, ampunilah dosa bagi orang-orang mukmin dan mukminat, dan orang-orang muslim dan muslimat, dan perbaikilah urusan di antara mereka, dan lembutkanlah di antara hati mereka, dan jadikanlah di dalam hati mereka keimanan dan hikmah, dan tetapkanlah mereka di atas agama rasul-Mu SAW, dan ilhamilah mereka agar dapat memenuhi janji-janji-Mu  yang telah Engkau janjikan kepada mereka atasnya, dan tolonglah mereka atas musuh-musuh-Mu dan musuh-musuh mereka, wahai Tuhannya kebenaran, dan jadikanlah kami termasuk dari golongan mereka”. (H.R. Al-Baihaqi, lihat Al-Adzkar An-Nawawiyah, dan Al-Majmu’, Juz 3/456).

Dan disunnahkan dalam membaca do’a qunut, bagi imam dan makmum dan bagi orang yang sholat sendirian, agar mengangkat kedua tangan. Akan tetapi tidak disunnahkan mengusapkan kedua telapak tangan ke wajah setelahnya. Dan disunnahkan pula bagi imam, agar menggunakan shighot jama’ dalam berdo’a, dan makmum agar mengamininya.

Telah diriwayatkan dari Tsauban r.a, berkata ; Rasulullah SAW, telah bersabda :

لاَ يَؤُمُّ رَجُلٌ قَوْمًا فَيَخُصَّ نَفْسَهُ بِالدُّعَاءِ دُونَهُمْ، فَإِنْ فَعَلَ فَقَدْ خَانَهُمْ. {رواه أبو داود (٩٠)، والترمذي (٣٥٧)}. حديث حسن

“Tidaklah mengimami oleh seorang lelaki pada suatu kaum, lalu ia mengkhususkan pada dirinya sendiri di dalam do’anya tanpa mereka, jika ia melakukannya, maka sungguh ia telah berkhianat kepada mereka”. (H.R. Abu Dawud, No Hadits : 90, dan At-Tirmidzi, No Hadits : 357). At-Tirmidzi berkata : Ini adalah hadits hasan.

Tulisan ini kami sadur dari file buku susunan kami sendiri yang berjudul “DZIKIR & DO’A SENJATANYA ORANG MUKMIN”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: